SD N 02 Selokaton, Kec. Gondangrejo, Kab. Karanganyar, Prov. Jawa Tengah >>> ”TERWUJUDNYA SISWA SDN 02 SELOKATON YANG TAQWA UNGGUL HANDAL TANGGAP IPTEK DAN BERKARAKTER PANCASILA”>

Monday, September 14, 2015

STRATEGI PENGELOLAAN KELAS





WARSITO,S.Pd,M.Pd
Kepala Sekolah SD Negeri 02 Selokaton
Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar 
Warsito_adjie@yahoo.com


A. PENTINGNYA STARTEGI PENGELOLAAN KELAS 




Peran Guru Dalam Strategi Pengelolaan Kelas Pada dasarnya guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya.


Tugas utama guru adalah menciptakan suasana didalam kelas agar terjadi interaksi belajar mengajar yang dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan bersungguh-sungguh. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang turut menentukan berhasil tidaknya pengajaran, dalam arti tercapainya tujuan-tujuan intruksional, sangat bergantung kepada kemampuan mengatur kelas. Untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, dan lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa dalam belajar, diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai. Pengorganisasian kelas adalah suatu rentetan kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
B. PERAN GURU DALM PENGELOLAAN KELAS


Dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif dan nyaman untuk suatu proses pembelajaran diperlukan suatu kemampuan seorang guru dalam memerankan perannya sebagai guru dalam mengelola kelas . Dalam hal ini guru harus dapat berperan sebagaimana perannya sebagai: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai valuator. Semua itu bertujuan untuk dapat menciptakan suasana kelas yang dapat memfasilitasi siswa dikelas sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
C. PENGATURAN KELAS
Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/ penataan ruang kelas dan isinya, selama proses pembelajaran. Menciptakan suasana belajar yang menggairahkan perlu memeperhatikan peraturan/penataan ruang kelas/belajar. Penyusunan dan pengaturan belajar hendaknya memungkinkan anak didik duduk berkelompok dan memudahkan anak didik bergerak secara leluasa. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell (Winataputra, 2003: 9.22) yaitu:
  1. Visibility ( Keleluasaan Pandangan)
  2. Accesibility (mudah dicapai)
  3. Fleksibilitas (Keluwesan)
  4. Kenyamanan
  5. Keindahan
Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal yang diperhatikan adalah:
  1. Ukuran dan bentuk kelas 
  2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja anak didik 
  3. Jumlah anak didik dalam kelas 
  4. Jumlah anak didik dalam setiap kelompok 
  5. Jumlah kelompok dalam kelas
D. JENIS-JENIS PENATAAN FORMASI TEMPAT DUDUK SISWA
1. Huruf U
Formasi kelas bentuk huruf U sangat menarik dan mampu mengaktifkan para siswa, sehingga mampu membuat mereka antusias untuk mengikuti pelajaran. Dalam hal ini guru adalah orang yang paling aktif dengan bergerak dinamis ke segala arah dan langsung berinteraksi secara langsung, sehingga akan mendapatkan respon dari pendidik secara langsung.
2. Corak Tim

Pada model ini, meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran atau oblong di ruang tengah kelas agar memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa). Guru dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna menciptakan suasana yang akrab. Siswa juga dapat memutar kursi melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru atau papan tulis.
3. Meja Konferensi
Formasi konferensi sangat bagus digunakan dalam metode debat saat membahas suatu permasalahan yang dilontarkan oleh pendidik, kemudian membiarkan para siswa secara bebas mengemukakan berbagai pendapat mereka. Denagn begitu akan didapatkan sebuah kesimpulan atau bahkan dapat memunculkan permasalahan baru yang bisa dibahas lagi pada pertemuan berikutnya.
4. Lingkaran


Dalam model ini, tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi berhadap-hadapan secara langsung. Model lingkaran seperti ini cocok untuk diskusi kelompok penuh.
5. Sususnan Chevron
Bentuk cevron mungkin bisa sangat membantu dalam usaha mengurangi jarak di antarsiswa maupun antar siswa dengan guru, sehingga siswa dan guru mempunyai pandangan yang lebih baik terhadap lingkungan kelas dan mampu aktif dalam pembelajaran di kelas. Formasi ini memberikan sudut pandang baru bagi siswa, sehingga mereka mampu menjalani proses belajar-mengajar dengan antusias, menyenangkan, dan terfokus.
6. Auditorium
Formasi auditorium merupakan tawaran alternative dalam menyusun ruang kelas. Meskipun bentuk auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun hal ini dapat dicoba untuk mengurangi kebosanan siswa yang terbiasa dalam penataan ruang secara konvensional (tradisional). Jika tempat duduk sebuah kelas dapat dengan mudah dipindah-pindahkan, maka guru dapat membuat bentuk pembelajran ala auditorium untuk membentuk hubungan yang lebih erat, sehingga memudahkan siswa melihat guru



7. TradisionalFormasi Tradisional adalah formasi yang biasa kita temui dalam kelas-kelas tradisional yang memungkinkan para siswa duduk berpasangan dalam satu meja dengan dua kursi. Namun, model ini sangat memiliki keterbatasan yaitu pandangan teman yang berada di kelas terutama di belakang sering terganggu. Mobilitas siswa juga tidak bisa leluasa




E. Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing Formasi (simulasi)
1. Huruf U
Kelebihan : guru dapat menjangkau seluruh peserta didik sehingga pembelajaran dapat maksimal.
Kekurangan : kondisi ini digunakan untuk kelas yang jumlah siswanya tidak terlalu banyak.
2. Corak Tim
Kelebihan : memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa). Siswa juga dapat mendiskusikan masalah belajarnya dengan siswa satu kelompoknya dan dapat memaksimalkan kegiatan belajarnya dengan baik.
Kekurangan : Kondisi kelas biasanya ramai dan materi yang disampaikan tidak dapat disampaikan secara maksimal dalam kondisi kelas yang demikian.
3. Meja Konferensi
Kelebihan : menjadikan mudah permasalahan yang dianggap berat/ sulit karena didiskusikan secara bersama.
Kekurangan : Dapat mengurangi peran penting siswa.
4. Lingkaran
Kelebihan : sistem ini dapat menyelesaikan permasalahan kelompok secara bersama dengan peserta didik yang jumlahnya banyak, dapat menjadikan mudah permasalahan yang dianggap berat/ sulit.
Kekurangan : pembelajaran kurang efektif dalam penerimaan dan pemberian tugas, karena siswa umumnya lebih suka bermain.
5. Susunan Chevron
Kelebihan : mengurangi jarak di antarsiswa maupun antar siswa dengan guru, sehingga siswa dan guru mempunyai pandangan yang lebih baik terhadap lingkungan kelas dan mampu aktif dalam pembelajaran
Kekurangan : dibutuhkan ruang kelas yang cukup keluasannya
6. Auditorium
Kelebihan : mengurangi kebosanan siswa yang terbiasa dalam penataan ruang secara konvensional (tradisional)
Kekurangan : lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif
7. Tradisional
Kelebihan : siswa mampu di jangkau oleh pandangan guru, kelas tampak lebih teratur dam rapi, dan guru dapat mengawasi dari depan.
Kekurangan : guru biasanya kurang memperhatikan siswa yang ada di belakang. Siawa yang tempat duduknya dibelakang tidak dapat menerima pelajaran secara maksimal.



No comments: